KONSELING BEHAVIORISTIK

Jumat, 19 Februari 2010

materi 11-12 *)



Standar kompetensi
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman konseling menurut Behavioristik.

Kompetensi dasar
Setelah menyelesaikan kegiatan kuliah ini, mahasiswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan tokoh, pandangan dasar, asumsi masalah, tujuan, proses dan keberhasilan konseling Behavioristik
2. Mengalisis model pelaksanaan konseling Behavioristik
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan konseling Behavioristik.


Pengantar
Istilah Konseling Behavioristik berasal dari istilah bahasa Inggris Behavioral Counseling, yang untuk pertama kali digunakan oleh John D. Krumboltz (1964), untuk menggarisbawahi bahwa konseling diharapkan menghasilkan perubahan yang nyata dalam perilaku konseli (counselee behavior). Krumboltz adalah promotor utama dalam menerapkan pendekatan behavioristik terhadap konseling, meskipun dia melanjutkan suatu aliran yang sudah dimulai sejak tahun 1950, sebagai reaksi terhadap corakkonseling yang memandang hubungan antarpribadi (personal relationship) antara konselor dan konseli sebagai komponen yang mutlak diperlukan dan sekaligus cukup untuk memberikan bantuan psikologis kepada seseorang. Aliran baru ini menekankan bahwa hubungan antarpribadi itu tidak dapat diteliti secara ilmiah, sedangkan perubahan nyata dalam perilaku konseli memungkinkan dilakukan penelitian ilmiah. Tokoh-tokoh seperti Dollard dan Miller (950), Wolpe (1958), Lazarus (1958), dan Eysenck (1952) meletakkan dasar aliran baru ini, yang akhirnya dipromosikan sebagai pendekatan baru terhadap konseling dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh tokoh-tokoh seperti Thoresen (1966), Bandura (1969), Goldstein (1966), Lazarus (1966), Yates (1970) serta Dustin dan George (1977). Dalam buku Counseling Methods (1976) Krumboltz dan Thoresen sudah tidak menggunakan istilah Behavioral Counseling, karena mereka menganggap kesadaran akan perlunya perubahan dalam perilaku konseli sudah tertanam dalam kalangan para ahli psikoterapi dan konseling.
Perubahan dalam perilaku itu harus diusahakan melalui suatu proses belajar (learning) atau belajar kembali (relearning), yang berlangsung selama proses konseling. Oleh karena itu, proses konseling dipandang sebagai suatu proses pendidikan (an educational process), yang terpusat pada usaha membantu dan kesediaan dibantu untuk belajar perilaku baru dan dengan demikian mengatasi berbagai macam permasalahan. Perhatian difokuskan pada perilaku-perilaku tertentu yang dapat diamati (observable), yang selama proses konseling melalui berbagai prosedur dan aneka teknik tertentu akhirnya menghasilkan perubahan yang nyata, yang juga dapat disaksikan dengan jelas. Semua usaha untuk menuatangkan perubahan dalam tingkah laku (behavior change) didasarkan pada teori belajar yang dikenal dengan nama Behaviorisme dan sudah dikembangkan sebelurn lahir aliran pendekatan Behavioristik dalam konseling. Teori belajar Behaviorisme mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Oleh karena itu, pendekatan Behavioristik dalam konseling mengenal banyak variasi dalam prosedur, metode, dan teknik yang diterapkan. Meskipun demikian. jajaran pelopor pendekatan Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan, karena itu, dapat diuoah dengan belajar baru. Dengan demikian, proses konseling pada dasarnya pun dipandang sebagai suatu proses belajar.
Konseling Behavioristikberpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat . manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis, yaitu:
(a) Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atan buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk aneka pola bertingkah laku yang menjadi suatu ciri khas pada keprihadiannya.
(b) Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
(c) Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar. Kalau pola yang lama dahulu dibentuk melalui belajar, pola itu dapat pula diganti melalui usaha belajar yang baru.
(d) Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Keyakinan tersebut itu, sebagaimana pernah dirumuskan oleh Dustin dan George, dikutip dalam buku karangan George dan Christiani: Theory. Methods, and Processes of Counseling and Psychotherapy (halaman 108). Sejalan dengan keyakinan mendasar itu. bagi seorang konselor behavioristik perilaku konseli merupakan hasil dari keseluruhan pengalaman hidupnya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Kalau perilaku konseli ditinjau dari sudut pandangan apakah perilaku itu tepat dan sesuai dengan situasi kehidupannya (well-adjusted) atau tidak tepat dan salah suai (maladjusted), harus dikatakan bahwa baik. tingkah laku tepat mauptin tingkah laku salah sama-sama merupakan hasil belajar. Karena tingkah laku salah merupakan hasil belajar, tingkah laku yang salah itu juga dapat dihapus dan diganti dengan tingkah laku yang tepat melalui suatu proses belajar. Dengan kata lain, kalau seseorang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri (adjustment), hal itu disebabkan karena orang itu telah belajar bertingkah laku yang salah. Di masa yang lampau orang belajar dalam interaksi dengan lingkungannya, lebih¬lebih orang lain (Lingkungan sosial). Dia telah berhadapan dengan sejumlah rangsangan (Stimulus, disingkat S) dan telah bereaksi pula dengan cara tertentu (Response, disingkat R). Cara bereaksi itu lama-kelamaan akan dapat membentuk suatu pola bertingkah laku. yang sesuai dengan situasi kehidupannya pada saat tertentu. Suatu pola bertingkah laku yang dahulu mungkin sesuai, di waktu kemudian dapat tidak sesuai lagi karena situasi kehidupannya telah berubah. Kalau pola berperilaku yang dipelajari dahulu tetap dipertahankan, meskipun situasi kehidupan telah berubah, akan ada kesulitan, alias orang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri. Misalnya, seorang remaja putra telah mengembangkan kebiasaan untuk mengurung diri di kamar tidurnya setiap kali berbeda biasanya tidak diutarakan oleh konseli pada waktu konseli menjelaskan masalahnya. Konselor yang berpegang pada model A-B-C baru mengetahui apa yang terjadi sesudah A dan sebelum C, tetapi belum mengetahui apa bentuk konkret dari A dan apa bentuk konkret dari c. Oleh karena itu, konselor akan mengajak konseli untuk mengidentifikasikan A dan C; rangsangan atau kombinasirangsangankonkret apa yangtelah berlangsung (A) dankeuntungan/efek positif apayangdiperoleh (C). Analisis ini sering tidak terbatas pada rangkaian A.,B"'C.yang•terdapatdi masa sekarang ini, tetapi juga menggali rangkaian A-B¬-C yang terjadi dimasa yang lampau. Ternyata seringkali perilaku yang sekarang ini juga terdapat di tahun-tahun yang lampau, sebagai reaksi terhadap rentetan peristiwa atau rangkaian pengalaman yang sama atau mirip dengan peristiwa di masa sekarang; ternyata pula,bahwa keuntungan/efek positif yang didapat di masa yang lampau sama dengan keuntungannya di masa sekarang. Dengan demikian menjadi jelas, bagaimana proses lahirnya permasalahan yang dihadapi pada masa sekarang. Dapat menjadi tampak,bahwa suatu seri kejadian atau pengalaman telah menjadi situasi psikologis tertentu, yang dihadapi dengan pola berperilaku tertentu dengan memperoleh efek yang sama.,Misalnya, seorang mahasiswi telah berkali-kali mengalami perlakuan kasar dari sejumlah mahasiswa bila berkumpul. Berkali-kali pula dia bereaksi dengan mengundurkan diri dari pergaulan sama para mahasiswa itu. Lama-kelamaan setiap pertemuan antar mahasiswa baginya menjadi situasi yang mengancam dan menegangkan. Akibatnya, dia selalu cenderung pergi secepat mungkin dan menyibukkan diri dengan aktivitas lain, seperti yang sudah-sudah. Keuntungan yang diperoleh ialah rasa lega karena lolos dari ancaman. Rasa lega itulah yang dicarinya sampai sekarang. Akhirnya dia menjatuhkan dirinya sendiri dalam suatu lingkaran setan. Namun, sebagai wanita muda dia juga berkeinginan untuk berjumpa dengan lawan jenisnya, sehingga dia akan mengalami kesukaran serius dalam pergaulan dengan kaum pria.
Di antara jajaran pelopor pendekatan Behavioristik ada yang menaruh perhatian besar pada reaksi emosional sebagai hasil belajar, khususnya rasa khawatir, cemas, gelisah, dan takut-takut (anxiety), yang sering melatar belakangi rasa tidak tenang serta rasa terancam dan mendasari tingkah laku manusia. Anxiety itu bukan dibawa sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari suatu proses belajar. Misalnya, seorang anak pernah dikejutkan sekali oleh seekor anjing besar, bahkan mungkin pernah digigit. Rasa takut terhadap anjing yang satu itu kemudian dapat dialihkan pada semua anjing dan lama ¬kelamaan menjadi rasa takut-takut (kecemasan dankegelisahan) terhadap semua binatang yang berkaki empat. Rasa serba takut.itu menjadi pendorong atau kekuatan motivasional untuk melakukan sesuatu guna mengurangi dan menghilangkan perasaan itu, misalnya dengan menjauhi semua binatang yang berkaki empat. Bila anak itu sudah menjadi dewasa dan masih menunjukkan perilaku menjauhi semua binatang yang berkaki empat, orang-¬orang lain bertanya-tanya dan mencap orang itu sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri (maladjusted). Rasa takut itu berfungsi sebagai reaksi dalam batin atau reaksi internal (r). yang ikut menentukan reaksi eksternal (R) atau perilaku nyata (B). Dollard dan Miller memusatkan perhatiannya pada cara perasaan itu diperoleh melalui proses belajar dan bagaimana perasaan itu melekat pada tingkah laku, bahkan pada pemakaian kata-kata tertentu dan pikiran tertentu, seperti rasa cemas bila dipakai kata seks dan muncul pikiran terkait mengenai seks. Oleh karena itu,. dalam mengadakan analisis kasus menurut model A-B-C, konselor mungkin berusaha mengidentifikasikan asal-usul perasaan khawatir, cemas, gelisah, dan takut-takut itu, dan menentukan dengan cara yang bagaimana konseli telah berusaha menghilangkan unsur perasaan itu dan menjadi tenang kembali. Contoh tentang mahasiswi di atas merupakan salah satu kasus di mana perasaan semacam itu memegang peranan; demikian pula dalam contoh tentang suami yang digambarkan di atas.
Setelah diadakan analisis kasus, konselor akan membantu konseli untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi sekarang, dengan mengembangkan suatu cara bertingkah laku yang lebih sesuai. Dalam hal ini dapat ditempuh dua jalan atau diterapkan dua siasat, yaitu:
(a) Mengubah respons/reaksi terbuka (R) atau perilaku (B) seeara langsung, tanpa mengusahakan perubahan dalam respons/reaksi tertutup (r) atau cara berpikir lebih dahulu. Dalam hal ini diterapkan pola/cara belajar menurut konsepsi Pavlov, konsepsi Skinner atau menurut konsepsi Bandura, yang mungkin dikombinasikan satu sama lain untuk mencari cara yang paling efektif bagi konseli tertentu dengan kasus tertentu. Adanya rasa cemas. gelisah, khawatir, dan takut-takut dapat ikut dipertimbangkan dalam prosedur penyembuhan, dapat pula tidak. Di Amerika Serikat telah dikembangkan berbagai variasi dalam prosedur mengusahakan mengubah perilaku secara langsung, seperti yang dikenal dengan nama desensitization. counterconditioning, social modeling, dan reinforcement program. Dalam prosedur-prosedur itu diusahakan suatu perubahan dalam Antecedent dan/atau Consequence, sehingga Behavior yang terdapat di antara kedua hal itu akan berubah pula. Seandainya diakui peranan dari suatu reaksi internal yang berupa perasaan dan/atau pikiran (r); peranan itu tidak ditanggulanginya secara khusus. atas dasar pertirnbangan bahwa perubahan dalam respons/reaksi tertutup akan mengikuti perubahan dalam respons/reaksi terbuka. Jadi mengubah R dahulu, kemudian akan menyusul perubahan dalam r dengan sendirinya. Berbagai prosedur itu umumnya dikenal dengan nama modifikasi tingkah laku (Behavior Modification), yang diterapkan terhadap orang yang mengidap penyakit jiwa atau mengalami gangguan neurotik (psikoterapi) diterapkan pula terhadap anak-anak yang sukar dididik, bahkan terhadap anak-anak normal di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Misalnya, seorang anak yang takut terhadap kelinci dan menjerit-jerit bila kelinci itu ditaruh di tempat yang dekat padanya. secara berangsur-angsur dibuat tidak menjerit lagi, bahkan bersedia mengelus-elus kelinci itu. Prosedur yang digunakan ialah menaruh kelinci itu di tempat yang agak jauh pada waktu anak sedang asyik menikmati sepotong cokelat manis. lni diulang-ulang, tetapi setiap kali kelinci itu ditaruh makin dekat padanya, sampai akhirnya dapat dipangku tanpa menjerit-jerit (counterconditioning). Seorang anak dapat belajar bertingkah laku tepat dengan meniru suatu model yang memperlihatkan tingkah laku yang tepat, misalnya bersalaman dengan orang yang tidak dikenal. Berbagai prosedur itu dapat saja diterapkan dalam konseling di. sekolah dalam kasus-kasus tertentu, tetapi kebanyakan konselor di indonesia tidak dipersiapkan khusus untuk merancang suatu prosedur modifikasi tingkah laku yang sesuai untuk setiap kasus yang ditangani. Oleh karena itu, pengubahan tingkah laku secara langsung menurut prosedur yang diutarakan di atas, tidak akan dibahas lebih lanjut di sini.
(b) Mengubah respons/reaksi tertutup (r) lebih dahulu, lebih-Iebih tanggapan pikiran dalam batin seseorang; sebagai akibat respon/reaksi terbuka (R) akan berubah pula, namun tidak secara langsung seperti dalam butir (a) di atas. Sesuai dengan yang diterangkan diatas tentang peranan tanggapan pikiran (mediating response), telah dikembangkan suatu pendekatan Behavioristik yang dikenal dengan nama Pendekatan Kognitif-Behavioristik (Cognitil'e-Behavioral Approach). Tentang pendekatan ini diuraikan lebih lanjut di bawah ini.

Tokoh/pakar seperti Bandura (1977), Kamfer dan Philips (1970), Cautela dan Baron (1977), dan Ellis (1977) menekankan peranan dari persepsi, pikiran, dan keyakinan, yang semuanya bersifat kognitif, sebagai komponen yang sangat menentukan dalam rangkaian S r R. Manusia dapat mengatur baik perilakunya sendiri dengan mengubah tanggapan kognitifnya terhadap Antecedent dan mengatur sendiri Reinforcement yang diberikan kepada dirinya sendiri. Corak pendekatan ini mengenal beberapa variasi dalam prosedur yang diikuti; seperti Assertive Training, Thought Stopping, Attribution Psychology, Self¬ Management (dikombinasikan dengan pendekatan secara langsung. seperti dalam butir (a), Cognitive Restructuring dan Rational-Emotive Therapy. Di sini pun dicari prosedur yang paling efektif bagi konseli tertentu dalam permasalahan tertentu. Misalnya. seseorang yang berbadan terlalu gemuk karena salah makan, dapat dibantu dengan mengembangkan suatu program mengatur waktu makan dan kuantitas bahan makakan, dengan memberikan suatu peneguhan (reinforcement) kepada dirinya sendiri setiap kali setia pada pelaksanaan program kerja itu, seperti nonton acara TV yang sangat-digemari atau memberikan pujian kepada diri sendiri (self-management). Misalnya pula, seorang karyawan yang selalu takut menghadapi pimpinannya untuk membicarakan suatu kepentingan, dapat dibantu dengan meninjau apa sebab-sebabnya dia merasa takut, mempertimbangkan semua alas an positif yang mendorong untuk menghadap, dan memikirkan pula cara berbicara yang tidak akan menimbulkan ketegangan dan konflik, disertai latihan menghadap seorang atasan yang dimainkan oleh konselor (assertive training, kombinasi antara pendekatan tidak langsung dan langsung).
Semua prosedur itu telah diterapkan oleh yang ahli dalam pendekatan Behavioristik ini terhadap banyak orang dalam berbagai macam permasalahan, baik yang mengandung. unsur kegelisahan dan kecemasan maupun yang tidak, dengan taraf keberhasilan yang berbeda-beda. Prosedur yang teruji ini dapat diterapkan dalam konseling di jenjang pendidikan menengah dan perguruan tinggi, namun diragukan apakah jajaran konselor sekolah di Indonesia dewasa ini sudah cukup terlatih dalam mengaplikasikannya terhadap kliennya secara jeli. Namun, ini tidak berarti bahwa corak pendekatan konseling Behavioristik ini tidak dapat digunakan oleh konselor sekolah terhadap kaum remaja dan mahasiswa. Banyak kasus berkisar pada rasa khawatir, takut, main, bersalah, muak, dan benci, yang semuanya disertai perasaan gelisah, cemas, dan tidak tenang. Perasaan itu menyangkut orang lain, benda-benda, dan kejadian-kejadian tertentu. Aneka rasa tersebut timbul karena konseli tidak pernah mendapat kesempatan untuk belajar hal-hal tertentu, seperti kelincahan dalam bergaul dengan orang lain (social skills) dan cara membawakan diri di hadapan umum; dapat pula timbul masalah karena kesempatan penyesuaian yang ada tidak dipergunakan semestinya, gara-gara pengaruh negatif dari beraneka perasaan itu, seperti terjadi dalam kasus mahasiswi yang diutarakan di atas. Perbedaan itu akan tampak dalam analisis kasus, ketika konselor menggali rangkaian A-B,-C di masa sekarang dan di masa yang lampau. Konseli kemudian dibantu untuk mengakui rasa takut dan perasaan cemas dalam batinnya sendiri (r afektif), dan meninjau masalahnya dari sudut lain serta memikirkan suatu cara bereaksi yang lain (r kognitif) sebagai langkah intermediar untuk berperilaku yang lebih tepat.
Sebagai contoh: mahasiswi yang akhirnya sangat takut untuk bergaul dengan teman¬-teman mahasiswa, dapat diajak untuk memikirkan suatu tanggapan kognitif yang lebih baik, seperti: "Saya tidak perlu menjatuhkan vonis atas semua pemuda. Saya harus membedakan antara mahasiswa yang genah (benar) dan tidak genah (tidak benar). Saya dapat menolak ajakan yang tidak sopan. Saya dapat menyatakan keberatan saya terhadap perlakuan tertentu. Saya dapat menghindari pembicaraan dengan pemuda yang tidak genah dan hanya bergaul dengan pemuda yang tahu cara membawa diri dan sebagainya. Lalu dirundingkan tatacara bergaul yang baik dan tepat tanpa disertai perasaan was-was akan dirugikan. Akhirnya program kerja itu mulai diterapkan di luar ruang konseling: kalau program kerja itu berhasil, dia akan mendapat peneguhan yang diberikan kepada diri sendiri (menurut konsepsi Skinner). Misalnya pula, seorang yang takut pada darah dan akhirnya takut pada warna merah, dapat diajak untuk melihat arti-arti lain yang melekat pada warna merah, seperti kepahlawanan. (bendera nasional) dan keindahan (bunga mawar). Seandainya darah sampai sekarang dipersepsikan sebagai lambang kematian dan kehilangan hidup, orangnya dapat diajak untuk menanggapinya dengan cara lain, seperti memberikan kehidupan (transfusi darah) (menurut konsepsi Pavlov). Tanggapan-¬tanggapan kognitif yang lebih tepat tergantung sekali dari kasus konkret, dari wujud tingkah laku yang harus berubah (B), dari rangsangan sebelumnya (A), dan dari bentuk peneguhan yang efektif (C). Dengan demikian, pendekatan Behavioristik menurut siasat yang diutarakan dalam butir (b) tadi dapat diterapkan terhadap kasus orang takut pada sesuatu, asalkan konseli ini mampu berefleksi atas tingkah lakunya sendiri.
Pendekatan Konseling Behavioristik masih dalam taraf penelitian untuk menentukan efektivitas dari berbagai prosedur spesifik seperti yang diutarakan di atas. Namun, dewasa ini semakin ditekankan bahwa pendekatan Behavioristik dapat menunjukkan fleksibilitas yang besar, karena tujuan konseling (perubahandalam tingkah laku) dan prosedur yang diikuti untuk sampai pada tujuan itu disesuaikan dengan kebutuhan nyata pada konseIi dalam setiap kasus. Selain itu, seorang konselor Behavioristik dewasa ini mengakui sepenuhnya bahwa suasana kepercayaan dan hubungan antarpribadi yang menyenangkan (working relationship) juga sangat penting. Dengan demikian, kritik negatif yang dahulu kerap dilontarkan terhadap pendekatan. Behavioristik sebagai manipulasi manusia yang tidak manusiawi agak kehilangan sengatnya. Diprakirakan bahwa pendekatan Behavioristik akan. semakin bergeser dari usaha membantu orang yang mempunyai masalah ke arah membekali orang dengan aneka siasat untuk mencegah timbulnya persoalan kejiwaan yang serius. Dalam hal ini Burks dan Stefflre dalam bukunya Theories of Counseling (1979) mengatakan:"The skills necessary to help clients become their own behavioral counselors .,. via self management techniques will be given increased emphasis." (halaman 250). Namun, pendekatan ini kiranya tidak bermanfaat bagi orang yang masalahnya bukan cara bertingkah laku yang salah/tidak sesuai, melainkan kehilangan arti dan makna dalam hidup atau memandang dirinya sebagai kegagalan total.

Model Pelaksanaan Konseling Behavioristik
Kasus
Palupi adalah siswi di SMK, kelas II, catur wulan IV Dia berumur 16 tahun, putri kedua dari lima bersaudara. Orang tua berpendidikan SLTA dan berhasil menciptakan suasana kehidupan keluarga yang akrab. Wali kelas II, seorang ibu, menaruh perhatian besar terhadap .perkembangan siswa di kelasnya. Pada suatu hari wali kelas itu menghubungi konselor sekolah untuk minta tolong dalam menghadapi kasus Palupi. Wali kelas menjelaskan: dia sudah lama memperoleh kesan bahwa Palupi menghadapi kesulitan yang menyangkut pergaulan dengan siswa lain jenis di sekolah. Wali kelas sudah kerap menyaksikan bahwa Palupi, setiap kali diajak bicara oleh seorang anak putra, menghindar dan menolak berbicara. Dia segera lari ke kelompok teman/kawan putri, seolah-olah mencari perlindungan dari mereka. Bahkan, baru-baru ini Palupi menolak tawaran dari wali kelasnya untuk ikut dalam mementaskan drama, dengan alasan tidak suka tampil di panggung bersama dengan pemain-pemain putra.
Wali kelas mengusulkan kepada konselor untuk mengajak Palupi bicara dan konselor menyatakan dirinya sanggup. Ketika konselor mcmanggil Palupi, mula-mula siswi itu agak segan berbicara, tetapi kemudian membuka diri. Dia mengakui merasa benci dan sekaligus takut terhadap semua anak putra. "Mereka semua jahat dan maunya hanya menindas cewek," katanya. Hanya kepada kedua adiknya yang laki-laki, yang masih di SD, dia merasa sayang. Dia mengatakan juga, "Lebih baik tidak menikah daripada jatuh dalam lembah kenistaan."
Konselor menduga bahwa Palupi telah mengalami hal-hal tertentu dan akhirnya menjadi merasa benci pada semua siswa putra; maka konselor ingin membantu Palupi bersikap lain dan bertindak lain.
Langkah-langkah kerja:
(1) Membangun hubungan pribadi dengan Palupi: lihat bagan di bagian A. Di sini pun konselor menjelaskan alasan Palupi dipanggil dan bertanya apakah Palupi memang mengalami suatu kesulitan. Palupi mengakui ada kesulitan dalam bergaul dengan anak putra dan bersedia membicarakan hal ini dengan konselor.
(2) Mendengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pikiran dan perasaan Palupi.
Palupi mengutarakan bahwa dia tidak suka ikut dalam pementasan drama kalau ada pemain putra. Dia mengatakan juga bahwa dia merasa lebih tenang dalam bergaul dengan kelompok teman/kawan putri saja. Dia merasa takut dan benci pada teman/kawan putra dan menyalahkan mereka menindas cewek saja. Dia mempunyai pikiran untuk tidak pemah menikah dari pada dihadapkan pada ulah laki-Iaki.
(3) Mengadakan analisis kasus, yaitu mencari gambaran yang lengkap mengenai kaitan antara A-B dan C (Antecedents, Behavior; Consequences). Konselor akan menaruh perhatian khusus pada semua reaksi internal (r) karena dia akan mengusahakan supaya Palupi mengubah dahulu reaksi pikiran dan perasaan sebagai jalan intermediar untuk mengubah perilakunya (R).
(a) Pada saat sekarang perilakunya yang nyata ialah menghindari pembicaraan dengan teman/kawan putra dan menolak tawaran untuk berpartisipasi dalam pementasan drama (B). Anteseden adalah sapaan oleh teman putra dan tawaran ikut main pentas bersama dengan beberapa anak putra (A). Akibatnya dari penghindaran dan penolakan .adalah rasa tenang dan perasaan lepas dari suatu bahaya yang mengancam (C); hal-hal ini diakui oleh Palupi ketika konselor memancing bagaimana perasaannya setelah menghindarkan diri. Ini sekaligus berfungsi sebagai penguat (reinforcement).
(b) Konselor bertanya-tanya mengenai pengalaman-pengalaman Palupi di masa yang lampau, apakah pernah terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan dalam bergaul dengan teman/kawan putra. Ternyata ada, yaitu pada waktu belajar di SMP rambutnya sering ditarik-tarik oleh beberapa siswa putra; di kampungnya sering diejek oleh pemuda brandal karena wajahnya penuh jerawat; pada waktu pergi ke Sekaten menyaksikan banyak pemuda mengganggu gadis-gadis dengan cara yang kasar; dari pernah menyaksikan film horor di mana wanita disakiti oleh laki-Iaki (A). Reaksinya adalah selalu sama, yaitu menghindar (R) dan merasa takut serta jijik (r). Setelah dia menghindar dan menyembunyikan diri dalam kelompok teman/kawan putri, dia.merasa aman dan lega (C). Konselor mulai mengerti bahwa dalam sejarah hidup Palupi telah terjadi generalisasi: tindakan ancaman dari kaum putra diartikan sebagai situasi yang menegangkan, yang diatasi dengan cara melarikan diri sebagai reaksi biasa. Dengan demikian Palupi menggali lubang untuk diri sendiri kafena dia semakin cenderung untuk: melarikan diri dan dengan demikian mendapatkan ketenangan; namun sekaligus dia membuat keadaan dirinya sendiri semakin sulit untuk diatasi (unsur peneguhan atau reinforcement). Dengan demikian menjadi jelas bagaimana telah berlangsung suatu proses belajar pada Palupi dan telah terbentuk suatu pola reaksi terhadap suatu situasi khusus, yang mula-mula menyangkut pemuda nakal dan kemudian meluas menjadi bergaul dengan sembarang pemuda.
(4) Membantu Palupi untuk menentukan penyelesaian yang memuaskan. Konselor dapat menjelaskan kepada Palupi bahwa kecenderungannya untuk melarikan diri dan rasa takut serta jijik merupakan hasil dari suatu proses belajar, sampai akhirnya Palupi tidak mengenal pola reaksi yang lain terhadap situasi yang khusus itu. Kemudian, konselor membantu Palupi untuk mengakui reaksi perasaannya sebagai suatu kenyataan yang harus dihadapi tetapi sekaligus dapat diatasi kalau dia berani mengubah pandangannya terhadap beraneka peristiwa yang telah dialaminya. Konselor dapat bertanya, apakah dia juga mempunyai pengalaman berisikan lain dalam pergaulan dengan seorang pemuda, bahkan dengan pria pada umumnya. Ternyata memang ada, misalnya beberapa kali ditolong oleh seorang pemuda kenalan baik mendapat perlakuan baik dari guru-guru pria yang masih bujang selama duduk di SMP dan ayahnya sendiri selalu menunjukkan kasih sayang kepadanya. Pokoknya, digali pengalaman mengesankan yang positif untuk mengimbangi pengalaman mengesankan yang negative. Selain itu, konselor menunjukkan pada kata-kata Palupi sendiri bahwa diasayang pada kedua adiknya yang laki-laki. Ini semua dikemukakan dengan tujuan supaya Palupi membuka cakrawalanya. Kemudian, konselor mengajak Palupi untuk memikirkan tanggapan kognitif yang lain terhadap peristiwa/kejadian negatif yang dialami, misalnya perlakuan kasar dari beberapa pemuda tidak harus dipandang sebagai bahaya yang mengancam jiwanya. Dia dapat menegur pemuda seperti itu dengan kata-kata yang tegas: dia dapat mengacuhkan perlakuan itu dan seolah-olah tidak melihat atau mendengar apa-apa. Reaksi melarikan diri hanyalah tepat bila keselamatannya sungguh-sungguh terancam. Kalau terus-menerus merasa takut pada pemuda, bagaimana akibatnya nanti bila timbul keinginan untuk mendapatkan seorang pacar seperti pemudi sebaya yang lain? Pokoknya, Palupi harus dibantu untuk membedakan antara pemuda yang sungguh-sungguh tidak genah, pemuda remaja yang sedikit nakal, dan pemuda yang betul-betul genah. Hanyalah mereka yang sungguh-sungguh tidak genah patut dihindari; yang sedikit nakal dikoreksi saja; yang betul-betul genah boleh bergaul dengan dia tanpa dia menentukan macam-macam syarat, supaya tabu bagaimana kaum pria itu. Dengan jalan yang demikian Palupi mulai memikirkan tatacara lain dalam berhadapan dengan seorang pemuda. Pemikiran/tanggapan kognitif yang baru ini tidak serta merta menghilangkan rasa takut dan benci, tetapi memberi kemungkinan untuk menghilangkan rasa takut dan benci itu walau memakan waktu yang lama. Kemudian, konselor mengusulkan kepada Palupi untuk berani terjun, dengan menerima tawaran ikut serta dalam pementasan drama dan berpartisipasi dalam kelompok belajar putra-putri di sekolahnya. Perilaku nyata (R) ini akan membantu Palupi mengusahakan sesuatu yang konkret, yang tidak hanya tinggal gagasan saja. Akhirnya, Palupi menyatakan kerelaannya untuk terjun dan mencari pengalaman baru dalam bergaul dertgan teman putra di sekolahnya.
(5) Mengakhiri hubungan pribadi dengan Palupi: lihat bagan di bagian A. .

0 komentar:

Poskan Komentar