KONSELING PENDEKATAN AFEKTIF

Jumat, 19 Februari 2010

materi 4 *)



Standar kompetensi
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman mengenai pendekatan afektif dalam konseling

Kompetensi dasar
Setelah menyelesaikan kegiatan kuliah ini, mahasiswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan yang dimaksud konseling dan teori konseling
2. Menjelaskan urgensi dan kedudukan teori konseling
3. Mengidentifikasi tokoh, pokok pikiran dan asumsi masalah, serta tujuan konseling dalam konseling pendekatan afektif.

Apa itu teori konseling?
Apa itu "konseling"? Sejak lahirnya gerakan Bimbingan dan Konseling banyak pihak menyajikan suatu definisi deskriptif untuk mengungkapkan konseptualisasi mereka. Menurut pandangan Schmidt dalam buku Counseling in Schools (1993) yang disajikan dalam Webster's New International Dictionary sebagai berikut: "practice of professional service designed to guide an individual to a better understanding of ... problems and potentialities by utilizing modern psychological principles and methods".. (Suatu pelayanan profesional yang terancang untuk mendampingi seorang agar memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai permasalahan dan segala kemampuan pribadi; pelayanan ini menggunakan aneka prinsip dan metode yang dikembangkan dalam ilmu psikologi modern). Definisi ini dinyatakan sebagai yang paling akurat karena tidak begitu terpengaruh oleh sudut pandangan teoretis tertentu dan tidak tercemar oleh diskusi tentang batasan antara konseling dan psikoterapi. Selama beberapa dasawarsa yang lampau telah dikembangkan berbagai posisi teoretis tentang konseling dan hubungannya dengan psikoterapi. Pada umumnya ditinjau unsur-unsur sebagai berikut: tujuan bantuan. psikologis, macam orang yang dilayani, pendidikan prajabatan yang diperoleh oleh pihak yang melayani, lingkungan pekerjaan di mana tenaga profesional melibatkan diri, dan (terutama) dari sudut pandang mana perilaku manusia sebaiknya ditinjau. Maka lahirlah beraneka ragam posisi teoretis, dari yang melihat perbedaan kualitatif antara konseling dan psikoterapi mengingat adanya perbedaan antara tujuan pelayanan, subjek yang dilayani, pendidikan prajabatan dan lingkungan pekerjaan, sampai yang tidak mengakui adanya perbedaan kualitatif. Di samping itu. berpengaruhlah bagaimana pandangan dasar masing-masing pencipta konseptualisasi tertentu terhadap kepribadian manusia dan proses perkembangannya, Misalnya, pandangan psikoanalitis berbeda sekali dengan pandangan humanistis dan pandangan behavioristis. yang keduanya masih mengandung variasi.
Teori konseling ialah suatu konseptualisasi atau kerangka acuan berpikir tentang bagaimana proses konseling berlangsung. Proses konseling tersebut menunjuk pada rangkaian perubahan yang terjadi pada konseli yang berinteraksi dengan seorang konselor selama jangka waktu tertentu. Pada dasarnya layanan konseling bertujuan untuk menghasilkan serangkaian perubahan pada konseli dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku. Ini berarti bahwa keadaan konseli pada akhir proses konseling berbeda dengan keadaan ketika proses konseling baru dimulai. Perubahan itu tidak terjadi secara mendadak pada saat tertentu, tetapi berlangsung secara gradual selama kurun waktu tertentu; maka terjadilah suatu proses. Dalam mendatangkan perubahan itu konselor pun ikut berperanan berkat aneka sifat kepribadiannya, corak komunikasi antarpribadi yang dikelolanya, prosedur yang diikutinya, dan semua teknik yang digunakannya. Hal-hal itu pada pokoknya berwujud suatu usaha konselor untuk mendampingi konseli dalam menjalani rangkaian perubahan pada dirinya sendiri. Suatu teori konseling merupakan kerangka acuan berpikir tertentu untuk menjelaskan apa yang terjadi selama proses konseling, perubahan yang bagaimana yang dituju, rnengapa perubahan itu dapat terjadi, dan apa unsur-unsur yang rnemegang peranan pokok. Semua komponen itu ditinjau secara terpadu dan dituangkan dalam bentuk konseptualisasi, yang kemudian disebut teori konseling.
Namun, konseptualisasi itu tidak bersifat spekulatif saja, tetapi didasarkan pada fakta yang diobservasi selama sejumlah proses konseling. Fakta itu menjadi data yang dihubungkan satu sama lain dalam suatu acuan berpikir terpadu mengenai bagaimana suatu proses konseling pada umumnya berlangsung. Suatu teori konseling merupakan suatu refleksi atas fakta yang diobservasi selama proses konseling berlangsung; kemudian data hasil penelitian dihubungkan satu sama lain, sehingga mulai bermakna dan dapat menjelaskan mengapa proses konseling berlangsung demikian.
Pandangan teoretis, sekali berbentuk, akan mempunyai dampak terhadap pelaksanaan konseling terhadap orang lain, yang mula-mula tidak diikutsertakan dalam penelitian yang mendasari pandangan teoretis itu. Maka setiap teori konseling (aspek refleksi teoretis) menggunakan pendekatan atau approach tertentu pula (aspek penerapan praktis), yang meliputi prosedur, metode dan aneka teknik yang akan digunakan dalam memberikan layanan konseling. Oleh karena itu, banyak ahli psikologi konseling menggunakan istilah Counseling Approaches, yang di dalamnya tercakup pula segi-segi teoretis. Dengan demikian, tidak terdapat jurang pemisah antara teori dan praktek, seperti sering dituduhkan oleh orang-orang yang kurang memahami kaitan antara praktek dan teori dan antara teori dan praktek. Tanpa latar belakang pemahaman teoretis, usaha seorang konselor menjadi tidak terarah dan tidak menentu, seperti seorang buta yang berjalan sambil meraba-raba saja. Bahkan setiap konselor, seandainya tidak mengenal teori-teori konseling yang ada, mengadakan refleksi teoretis untuk dapat menemukan makna dari fakta yang disampaikan oleh konseli, misalnya fakta dalam riwayat hidupnya dan fakta dalam lingkungan sosial-budaya konseli selama masa yang lampau.
Pengelompokkan teori atau pendekatan dalam konseling antara lain:
(1) Tempat pada kontinum antara dua kutub, yaitu teori yang bercorak kognitif dengan menekankan berpikir, dan teori yang bercorak afektif dengan menekankan berperasaan. Kalau semua teori atau pendekatan bersangkutan diurutkan dari yang paling bercorak kognitif ke yang paling bercorak afektif diperoleh urutan lebih kurang sebagai berikut Rational-Emotive Therapy, Teori Trait-Factor, Kcnseling Behavioristik, Reality Therapy, Konseling Eklektik, Analisis Transaksional, Konseling Eksistensial, Psikologi Individual, Psikoanalisis, Client-Centered Counseling, dan Teori Gestalt.
(2) Fokus perhatian pada salah satu aspek dari kepribadian seseorang, seperti diusulkan oleh George dan Christiani dalam buku Theory, Methods, and Processes of Couseling and Psychotherapy, 1981, halaman 62. Aspek-aspek yang dimaksud ialah perasaan seseorang, pikiran seseorang, dan perilaku seseorang. Setiap teori atau pendekatan mengakui peranan masing-masing aspek dalam kehidupan seseorang dan memberikan perhatian secukupnya pada rnasing-masing aspek itu, namun memberikan tekanan pada salah satu aspek. Dengan demikian dapat dibedakan tiga kelompok pendekatan:
(a) berubah dalam berperilaku dengan mengubah cara seseorang berperasaan tentang dirinya sendiri, seperti diusahakan dalam Client-Centered Therapy, Teori Gestalt, Psikoanalisis, Psikologi Individual, dan Konseling Eksistensial;
(b) berubah dalam berperasaan dan berperilaku pada dirinya sendiri dengan mengubah cara seorang berpikir tentang diri sendiri, seperti diusahakan dalam Rational-Emotive Therapy, Analisis Transaksional dan Teori Trait-Factor;
(c) berubah dalam berperasaan dan berpikir tentang dirinya sendiri dengan mengubah perilaku nyata lebih dahulu, seperti diusahakan dalam Konseling Behavioristik dan Reality Therapy.


Teori Konseling Pendekatan Afektif
Di bagian ini dibahas sejumlah.pandangan teoretis bersama dengan pendekatannya yang praktis. Beberapa pendekatan konseling tersebut antara lain konseling pendekatan afektif, kognitif dan behavioristik. Dari pendekatan tersebut ada beberapa pendekatan yang membutuhkan masa latihan khusus, seperti Psikoanalisis, Psikologi Individual, Teori Gestalt dan Analisis Transaksional. Ada teori yang mengandung pemikiran falsafah yang jauh dari alam pikiran dan penghayatan hidup seperti Konseling Eksistensial. Ada pendekatan yang dinilai kompleks, seperti sistematika yang dikembangkan oleh Carkhuff. Selain itu, beberapa teori yang mengarah ke Psikoterapi, yang diterapkan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental yang serius. seperti Psikoanalisis dan Psikologi Individual. Namun pandangan teoretis ini bersama dengan pendekatannya yang khas hanya diuraikan secara singkat. Pembaca yang berminat untuk mempelajari semua pandangan ini seeara lebih mendalam dan lebih lengkap dapat melihat literatur profesional yang relevan.

a. Psikoanalisis
Psikoanalisis (Psychoanalysis) yang bersumber pada sederetan pandangan Sigmund Freud dalam abad ini mengalami perkembangan yang pesat. Pengarang ahli yang berpegang pada beberapa konsep Freud yang paling dasar, namun mengadakan modifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu psikologi, disebut Neo-Freudians, antara lain Carl jung, Otto Rank, Wilhelm Reich, Karen Horney, Theodore Reih, dan Harry Stack Sullivan. Terapi psikoanalitis berusaha membantu individu untuk mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam yang berlebih-lebihan (anxiety). Sebelum orang datang kepada ahli terapi. Dia telah berusaha untuk menghilangkan ketegangan itu, tetapi tidak berhasil. Menurut pandangan Freud. setiap manusia didorong-dorong oleh kekuatan-kekuatan irasional di dalam dirinya sendiri, oleh motif-motif yang tidak disadari sendiri, dan oleh kebutuhan¬-kebutuhan alamiah yang bersifat biologis dan naluri. Bilamana beraneka dorongan itu tidak selaras dengan apa yang diperkenankan serta diperbolehkan menurut kata hati atau kode moral seseorang, timbul ketegangan psikis yang disertai kecemasan dan ketidaktenangan tinggi. Kalau seseorang tidak berhasil mengontrol dan membendung kecemasan itu dengan suatu cara yang rasional dan realistis, dia akan menggunakan prosedur yang irasional dan tidak realistis, yaitu menggunakan salah satu mekanisme pertahanan diri demi menjaga keseimbangan psikis dan rasa harga diri, seperti rasionalisasi, penyangkaian, proyeksi, dan sebagainya. Selama proses terapi konseli menerapkan terhadap konselor corak hubungan antarpribadi sama seperti dilakukannya di masa yang lampau terhadap orang¬-orang yang berperanan penting dalam hidupnya. Dengan kata lain, perasaan terpendam terhadap orang tertentu serta segala konflik yang dialami dalam berkomunikasi dengan pihak/orang itu, selama proses terapi dihidupkan kembali dan dilimpahkan pada konselor sebagai wakil dari pihak/orang itu (transference). Perasaan, pertentangan dan konflik yang sengaja ditimbulkan itu, kemudian diolah kembali sampai konseli menjadi sadar akan berbagai dorongan yang ternyata berperanan sekali dalam kehidupannya sampai sekarang . Kesadaran ini memungkinkan suatu perubahan keadaan dalam batin konseli dan dalam cara mengatur kehidupannya sendiri.

b. Psikologi Individual
Aliran Psikologi Individual (Individual Psychology) dipelopori Alfred Adler dan dikembangkan sebagai sistematika terapi oleh Rudolf Dreikurs dan Donald Dinkmeyer, yang dikenal dengan nama Adlerian Counseling. Dalam corak terapi ini perhatian utama diberikan pada kebutuhan seseorang untuk menempatkan diri dalam kelompok sosialnya. Ketiga konsep pokok dalam corak terapi ini adalah rasa rendah diri (inferiority feeling), usaha untuk mencapai keunggulan (striving for superiority), dan gaya hidup perseorangan (a person's lifestyle). Manusia kerap mengalami rasa rendah diri karena berbagai kelemahan dan kekurangan yang mereka alami, dan berusaha untuk menghilangkan ketidakseimbangan dalam diri sendiri melalui aneka usaha mencari kompensasi terhadap rasa rendah diri itu, dengan mengejar kesempurnaan dan keunggulan dalam satu atau beberapa hal. Dengan demikian manusia bermotivasi untuk menguasai situasi hidupnya, sehingga dia merasa puas dapat menunjukkan keunggulannya, paling sedikit dalam bayangannya sendiri. Untuk mencapai itu anak kecil sudah mengembangkan suatu gaya hidup perseorangan, yang mewarnai keseluruhan perilaku di kemudian hari meskipun biasanya tidak disadari sendiri. Selama proses terapi konselor mengumpulkan informasi . tentang kehidupan konseli di masa sekarang dan di masa yang lampau sejak berusia sangat muda, antara lain berbagai peristiwa di masa kecil yang masih diingat, urutan kelahiran dalam keluarga, impian-impian, dan keanehan dalam perilaku. Dari semua informasi itu konselor menggali perasaan rendah diri pada konseli yang bertahan sampai sekarang dan menemukan segala usahanya untuk menutupi perasaannya itu melalui suatu bentuk kompensasi, sehingga mulai tampak gaya hidup perseorangan. Selanjutnya. konselor membantu konseli untuk mengembangkan tujuan-tujuan yang lebih membahagiakan bagi konseli dan merancang suatu gaya hidup yang lebih konstruktif. Dalam melayani anak muda yang menunjukkan gejala salah suai dalam bergaul dengan pihak teman di sekolah, konselor berusaha menemukan perasaan rendah diri yang mendasari usaha kompensasi dengan bertingkah laku aneh, yang ternyata menimbulkan berbagai gangguan di dalam kelas. Menurut pendapat Schmidt (1993) banyak unsur dalam Psikologi Individual cocok untuk diterapkan dalam konseling di sekolah, baik dalam konseling individual maupun dalam konseling kelompok.

c. Terapi Gestalt
Terapi Gestalt (Gestalt Therapy) dikembangkan oleg Frederick Perls. Dalam corak terapi ini konselor membantu konseli untuk menghayati diri sendiri. dalam situasi kehidupannya yang sekarang dan menyadari halangan yang diciptakan sendiri untuk merasakan serta meresapi makna dari konstelasi pengalaman hidup. Keempat konsep pokok dalam terapi ini adalah penghayatan diri sendiri dalam situasi hidup yang konkret (awareness), tanggung jawab perseorangan (personal responsibility), keutuhan dan kebulatan kepribadian seseorang (unity of the person), dan penyadaran akan berbagai halangan yang menghambat penghayatan diri sendiri (blocked awareness). Konseli harus mengusahakan keterpaduan dan integrasi dari berpikir, berperasaan, dan berperilaku, yang mencakup semua pengalamannya yang nyata pada saat sekarang. Konseli tidak boleh berbicara saja tentang kesulitan dan kesukaran yang dihadapi, karena berbicara itu mudah menjadi suatu permainan memutarbalikkan kata-kata (word game). tanpa disertai penghayatan seluruh perasaannya sendiri dan tanpa menyadari tanggung jawabnya sendiri. Oleh karena itu, konselor mendesak konseli untuk menggali macam-macam perasaan yang belum terungkapkan secara jujur dan terbuka, seperti rasa jengkel, sakit hati rasa dukacita dan sedih, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa kesal, atau rasa diasingkan. Semua rasa itu belum pernah dibiarkan muncul ke permukaan dan masuk alam kesadaran konseli, namun berpengaruh sekali dalam kehidupan batin (unfinished business). Isi batin ini harus diterima sebagai milik konseli sendiri dan tanggung jawabnya sendiri serta tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab orang lain. Dengan demikian konseli menyadari bahwa dia telah memasuki suatu jalan buntu; tetapi sekaligus diakui bahwa seharusnya dia berdiri di atas kaki sendiri dan harus mendapat dukungan moral dari diri sendiri bukan dari orang lain. Dengan bantuan konselor, konseli lalu mulai membuka jalan buntu itu dengan meninggalkan berbagai siasat untuk mendapatkan simpati dari orang lain. dan mulai mengambil peranan lebih aktif dalam mengatur kehidupannya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan terapi yang lain, Terapi Gestalt membuat konseli merasa frustrasi (berada di jalan buntu), tetapi frustrasi itu dipandang sebagai landasan bagi usaha baru yang lebih konstruktif. Dengan kata lain, mengakui kegagalan dalam diri sendiri adalah cermin bagi diri sendiri pula.

d. Konseling Eksistensial
Aliran Konseling Eksistensial (Existential Counseling) tidak terikat pada nama salah seorang pelopor. Konseling Eksistensial dilaksanakan dengan berbagai variasi, yang semuanya dengan satu atau lain cara mengambil inspirasinya dari karya-karya ilmuwan falsafah di Eropa Barat, seperti Paul Tillich, Martin Heidegger, Jean Paul Sarte, Ludwig Binswanger, dan Eugene Minkowski. Konseling Eksistensial sangat menekankan implikasi dari falsafah hidup ini dalam menghayati makna kehidupan manusia di dunia ini Jajaran promotor dari Konseling Eksistensial di Amerika Serikat adalah Rollo May, Victor E. Frankl, dan Adrian Van Kaam. Konseling Eksistensial berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta, yang mencakup: kemampuan kesadaran diri; kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya sendiri; tanggung jawab pribadi; kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin; usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia; keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain; kematian; serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Selama wawancara konseling, konseli membuka pikiran dan perasaannya, bagaimana dia menghayati dan meresapi kehidupan di dunia ini. Sebaliknya, konselor juga membuka diri dan ingin berkomunikasi sebagai manusia yang menghadapi beraneka tuntutan kehidupan manusiawi yang sama. Melalui proses komunikasi antarpribadi ini, konseli mulai semakin menyadari kemampuannya sendiri untuk mengatur dan menentukan arah hidupnya sendiri secara bebas dan bertanggung jawab. Dalam hal ini konseli belajar dari konselor, yang mengkomunikasikan suatu sikap hidup penuh rasa dedikasi terhadap segala tuntutan hidup sebagai tanggung jawab pribadi. Konseli diharapkan. akan menjadi semakin mampu mengatasi beraneka kesulitan dan bermacam tantangan dengan menempatkannya dalam kerangka suatu sikapmendasar. terhadap kehidupannya sebagai manusia, yang harus menerima realita hidup sebagaimana adanya dan harus memperkaya diri sendiri melalui penghayatan makna kehidupannya. Konseli yang melibatkan diri sepenuhnya dalam hidup secara otentik (commitment to' life), akan dapat menentukan apa yang sebaiknya dilakukannya pada saat tertentu dalam kehidupannya.


























*) Diadaftasi dari W.S. Winkel (1997), Bimbingan dan Konseling

0 komentar:

Poskan Komentar