KONSELING PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

Jumat, 19 Februari 2010

materi 6 *)



Standar kompetensi
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman mengenai pendekatan Behavioristik dalam konseling

Kompetensi dasar
Setelah menyelesaikan kegiatan kuliah ini, mahasiswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi tokoh, pokok pikiran dan asumsi masalah, serta tujuan konseling dalam konseling Reality Therapy
2. Menjabarkan konseling multimodal (Multimodal Counseling).

a. Reality Therapy
Reality Therapy dikembangkan oleh William Glasser. Yang dimaksudkan dengan istilah reality ialah suatu standar atau patokan objektif, yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral.
Sesuai dengan pandangan behavioristik, yang terutama disoroti pada seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata. Tingkah laku itu dievalusi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaiannya dengan realitas yang ada. Glasser memfokuskan perhatian pada perilaku seseorang pada saat sekarang, dengan menitikberatkan tanggung jawab yang dipikul setiap orang untuk berperilaku sesuai dengan realitas atau kenyataan yang dihadapi. Penyimpangan /ketimpangan dalam tingkah laku seseorang dipandang sebagai akibat dari tidak adanya kesadaran mengenai tanggung jawab prihadi; bukan sebagai indikasif gejala adanya gangguan dalam kesehatan mental menurut konsepsi tradisional. Bagi Glasser, bermental sehat adalah menunjukkan rasa tanggung jawab dalam semua perilaku.
Tanggung jawab diartikan sebagai kemampuan untuk dapat memenuhi dua kebutuhan psikologis yang mendasar, yaitu kebutuhan untuk dicintai dan mencintai serta kebutuhan menghayati dirinya sebagai orang yang berharga dan berguna. tetapi dengan cara tidak merampas hak orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kemampuan untuk memenuhi kedua kebutuhan dasar itu tidak dimiliki sejak lahir. tetapi harus diperoleh melalui suatu proses belajar. Dengan demikian. bertanggung jawab merupakan hasil dari aneka usaha belajar memenuhi kebutuhan itu dalam realitas hidup, yang menghadapkan orang pada norma-norma moralitas, adat ¬istiadat sosial. nilai-nilai kehidupan, serta pembatasan gerak-gerik yang lain. Orang¬ perorangan tidak diperkenankan untuk bertindak sesuka hati; dia harus menunjukkan tingkah laku yang tepat dan menghindari tingkah laku yang salah (right and wrong behavior).
Selama proses konseling, konselor membantu konseli untuk menilai kembali tingkah lakunya dari sudut bertindak secara bertanggung jawab. Dengan demikian, proses konseling bagi konseli menjadi pengalaman belajar menilai diri sendiri dan, di mana perlu, menggantikan tingkah laku yang keliru dengan tingkah laku yang tepat. Sampai taraf tertentu, konselor berperan sebagai seorang guru yang mengajarkan tata cara bertindak secara bertanggung jawab, memberikan pujian bilamana konseli mulai bertindak secara tepat. dan mencela bila konseli tidak bertindak secara bertanggung jawab. Konselor menolak segala macam alasan untuk membela diri bila konseli tidak menunjukkan tanggung jawab itu, apalagi menimpakan kesalahannya sendiri pada orang lain atau situasi dan kondisi. Kalau konseli ingin menikmati kebahagiaan dalam hidup, dia harus menjadi orang yang bersikap dan bertindak dengan penuh tanggung jawab di tengah-tengah medan kenyataan hidup. Menurut pendapat Schmidt (1993) pendekatan ini cocok untuk diterapkan oleh seorang konselor sekolah karena tekanan yang diberikan pada kemampuan individu untuk mengatur kehidupannya sendiri dan berani mempertanggungjawabkan tingkah lakunya: Namun harus diingat bahwa pendapat itu menyangkut suatu lingkungan kebudayaan yang mengutamakan pengembangan segala potensi yang dimiliki oleh seorang dan, karena itu, mungkin kurang selaras dengan ciri kebudayaan yang menghargai kelancaran dalam hubungan sosial, biarpun berarti mengorbankan suatu potensi yang sebenarnya dimiliki.

b. Multimodal Counseling
Nama "Multimodal Counseling" sulit diganti dengan istilah Bahasa Indonesia yang sesuai; pendekatan konseling ini memadukan berbagai unsur (multl) dari beberapa pendekatan yang tersedia {modal counseling), sehingga terciptalah sistematika yang baru. Mengingat sejarah perkembangannya demikian, pendekatan ini bersifat eklektik. Pelopornya adalah A. Lazarus yang mengembangkan pendekatan ini selama 1970-an dan menyaksikan perluasan aplikasi pendekatan ini oleh banyak konselor sekolah selama dasawarsa berikutnya, antara lain karena sifatnya yang sangat eklektik dan berasaskan wawasan yang sangat luas (Schmidt, 1993, halaman 127). Pendekatan ini berakar dalam medan teori behavioristik, tetapi sekaligus mencakup banyak unsur lain yang saling berkaitan dalam lingkup sejarah perkembangan. proses belajar dan hubungan antar pribadi. Selain itu, pendekatan ini sekaligus dirancang untuk mengembangkan suatu proses konseling yang dapat memenuhi kebutuhan masing-masing konseli, seperti seorang penjahit memotong kain menurut ukuran badan orang yang akan mengenakan baju baru.
Untuk itu selama proses konseling perhatian konselor terpusatkan pada tujuh faktor atau komponen dalam pola kehidupan konseli. yaitu perilaku nyata (Behavior), alam perasaan (Affect), proses persepsi melalui alat indera (Sensation), konsep diri dalam berbagai aspekiiya (Imagery), keyakinan dan nilai-nilal dasar sebagai pegangan dalam berpikir dan menentukan sikap (Cognition), hubungan antarpribadi dengan orang yang dekat (Inlerpersonal Relationships), dan keadaan fisik serta kesehatan jasmani (Biological Functioning). Setiap komponen atau mode ditinjau dan dibahas untuk mengumpulkan data yang relevan. Bilamana diambil ketujuh huruf pertama dalam Bahasa Inggris, dengan menggantikan huruf yang terakhir B menjadi D (Drugs = obat), diperoleh akronim BASIC-ID yang menjadi kerangka berpikir dan pegangan mental bagi konselor dalam mengumpulkan data tentang pola kehidupan konseli. Data yang terhimpun itu kemudian dikaji oleh konseli dengan mengaitkannya satu sama lain, sehingga pola kehidupan konseli dapat dikonsepsikan secara jelas dan ditemukan sumber timbulnya masalah pada saat sekarang. Kemudian ditentukan cara menanggulangi masalah yang paling tepat dan cara mernbantu konseli mengatasi masalah yang paling efisien, dengan memilih dari sekian banyak siasat yang tersedia, misalnya perubahan tingkah laku secara langsung rehabilitasi kognitif atau lain siasat.
Ahli konseling yang lain, D. Keat, kemudian mengadaptasikan format akronim BASIC ID dengan kebutuhan yang khas bagi anak yang belum mencapai umur masa remaja dan belum sebegitu termotivasi untuk mengubah tingkah lakunya atas dasar prakarsa sendiri (motivasi ekstrinsik versus motivasi intrinsik). Pengadaptasian ini menghasilkan akronim baru, yaitu HELPING dengan komponen kesehatan (Health), perasaan (Emotion), belajar (Learning), bersifat pribadi (Personal), pandangan dan bayangan mengenai diri sendiri (Imagination), kebutuhan untuk mengetahui (Need to know), dan pendampingan serta bimbingan (Guidance of beha viors).
Menurut pandangan Schmidt dalam buku Counseling in Schools (l993), pendekatan konseling menurut sistematika Lazarus dan Keat sangat sesuailah dengan situasi kehidupan yang kerap dijumpai pada siswa di sekolah dan memungkinkan untuk memfokuskan perhatian pada salah satu komponen dalam pola kehidupan siswa yang sebaiknya mengalami perubahan lebih dahulu.Misalnya, diusahakan perubahan dalam cara memandang sesuatu dan penentuan sikap (cognition) yang diperkirakan akan berdampak positif terhadap proses perkembangan selanjutnya, atau dimulaq suatu perubahan dalam perawatan kejasmanian biarpun sedikit demi sedikit (Drugs). Dengan kata lain, hal/unsur/komponen yang paling menonjol dapat ditangani lebih dahulu tanpa mengusahakan suatu perubahan menyeluruh dan radikal, yang biasanya sangat sulit dilakukan oleh orang yang masih berumur muda.
Biarpun ada keuntungan demikian, menurut pendapat pengarang buku ini pendekatan "multimodal counseling" bagi sebagian besar konselor dan kebanyakan konseli serta mahasiswa di Indonesia pada saat sekarang menjadi terlalu kompleks karena peninjauan terhadap tujuh komponen sekaligus. Jadi. keberatannya sama dengan yang dikemukakan terhadap sistematika Carkhuff.

0 komentar:

Poskan Komentar